Friday, November 14, 2014

Kejayaan Masa Lalu


MASA-MASA JAYA ITU BEGITU INDAH

Perkenalkan, namaku Goro. Aku lahir dalam keluarga yang cukup terpandang. Tentu saja, ayahku adalah seorang pejabat tinggi. Kemana-mana kami selalu menggunakan roda 4. Kadang menggunakan kendaraan bersayap. Kami tidak pernah menggunakan kendaraan yang terapung di laut itu.


Aku hidup dalam limpahan harta yang tidak terkira. Semua itu karena posisi ayahku yang begitu strategis. Ayah selalu memperhatikan kebutuhanku, baik dari segi sandang, papan maupun pangan.  Pakaian selalu kami beli di mall dengan harga minimal 5 lembar Soekarno-Hatta. Kami juga tidak pernah makan selain di rumah makan ternama. Warung pinggiran tidak akan masuk dalam lirikan kami. Mainan untukku juga bukan mainan yang bisa dibeli orang sembarangan. Rumah, ya, rumah kami tidak begitu besar. Ukuran tanahnya hanya 1 hektar dan luas bangunan 60% dari luas tanah, sesuai peraturan RTH setempat.

Dalam hal pendidikan, ayah juga memberikan usaha terbaiknya. Masuk di sekolah terfavorit di kota terfavorit. Meskipun otakku pas-pasan keencerannya, dengan pengaruh dari ayahku, aku selalu menjadi peringkat pertama di dalam kelas. Ayahku tentu akan malu jika anak semata wayangnya hanya menduduki peringkat terakhir di kelasnya. Itulah sebabnya, beliau menjalankan berbagai trik dan strategi untuk mendongkrak nilai raportku.

Teman-temanku tentu saja menyadari jika ada yang tidak beres dengan perangkingan di dalam kelas. Mereka bukan orang bodoh dan polos yang percaya dengan mudah akan sesuatu. Namun mereka semua hanya diam membisu menerima kenyataan pahit itu. Mereka takut akan resiko yang akan hadir jika di cap sebagai provokator. Akhirnya mereka hanya bisa jadi penonton yang pasrah.

Meskipun begitu, aku selalu punya banyak teman. Aku tidak pernah sendiri. Aku tahu jika mereka hanya mengincar traktiran atau buah tangan dariku. Tapi itu tidak masalah. Ternyata uang bisa membeli segalanya. Aku bisa berkuasa dimanapun aku berada. Aku bisa mendapatkan teman sebanyak yang aku mau.

Masa remaja aku habiskan dengan berpacaran sepuasnya. Tidak sulit bagiku mendapatkan pacar. Dengan modal motor besar yang keren, aku bisa menarik perempuan manapun. Setelah bosan menghisap madunya, aku pun berganti dengan pacar yang baru. Tentu saja aku tidak berniat menikahi mereka karena mereka hanyalah pengisi waktu luangku. Aku lebih suka dikelilingi para gadis dari pada temanku yang laku-laki. Bagiku bergaul dengan sesama jenis yang matre itu tidak terlalu menyenangkan.

Dalam tiga tahun masa SMA, sudah tidak terhitung lagi perempuan yang aku rusak masa depannya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur. Hal itu tidak berlaku bagi pria sepertiku. Masa depanku masih bersinar dengan cerah meskipun aku telah mencemari mereka semua.

Hal itu terus berlanjut hingga tingkat Universitas. Masuk jalur mandiri bukan masalah bagi ayahku. Waktu kuliah yang seharusnya 4 tahun itu bisa berlaku lain padaku. Aku mendapatkan diskon sebesar setengah tahun. Tentu saja ada kekuatan ayahku dibalik itu. Aku akhirnya berhasil meraih gelar sarjana dengan nilai terbaik meskipun dengan bantuan orang bayaran ayahku.

Anak pejabat sepertiku tentu saja gampang mencari calon istri. Semua relasi ayahku menawarkan anaknya agar bisa dijadikan menantu. Kesempatan itu tentu tidak aku sia-siakan. Aku pun memilih dengan seksama. Melalui berbagai seleksi yang didasarkan pada fisik semata. Akhirnya aku menentukan pilihan pada gadis yang sesuai dengan seleraku. Wajahnya cukup mirip dengan salah satu artis papan atas nasional. Bagi orang lain, mungkin ini terlihat tidak adil. Bagaimana mungkin lelaki bejat sepertiku bisa mendapatkan wanita yang masih suci. Tapi itu adalah rahasia dari Tuhan.

Pernikahan kami begitu meriah. Pesta diadakan selama 7 hari 6 malam. Ayah tidak ingin pesta resepsi anaknya kalah meriah dengan pesta resepsi anak presiden. Soal biaya, tidak perlu lagi dipertanyakan. Itu sudah pasti cukup untuk mendirikan beberapa sekolah dari tingkat SD hingga tingkat SMA.

Saat itu, aku masih belum bekerja. Beruntung sekali, dalam waktu dekat, akan ada seleksi penerimaan PNS. Kebetulan sekali, titel kesarjanaanku sedang dicari. Jumlahnya ada 3 orang.
Seperti biasa, aku mempersiapkan diri dengan berleha-leha dan bersantai. Menghabiskan 20 hari sebelum tes dengan berbulan madu bersama istriku. Masalah registrasi dan tetek bengeknya sudah di urus oleh agen-agen ayahku. Aku tidak perlu khawatir akan tes itu. Namaku dipastikan menjadi orang pertama yang lulus sebagai tenaga teknis perkotaan. Dua posisi sisanya akan diperebutkan peserta lainnya.

Akhirnya hari yang ditentukan telah datang. Karena sudah terjamin 100%, tak perlu lagi aku datang menghadiri ujian CPNS itu. Dan benar saja. Dihari pengumuman, ada namaku tertera di papan pengumuman. Dengan begini, hidupku bisa terus berlanjut tanpa membebani ayahku yang akan segera pensiun.

Ternyata, apa yang aku harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ayahku menjadi tersangka karena diduga terlibat berbagai penyelewengan dana dan kekuasaan. Tanpa pangkat dan jabatan, ayahku bukan siapa-siapa lagi sehingga keadilan mulai berani menerjang dirinya. Karena lilitan kasus itu, ayahku mengalami stroke dan meninggal. Ibuku jadi sakit-sakitan dan tidak bisa bergerak sama sekali. Istri yang aku harapkan kesetiaannya tidak lagi bersedia mendampingiku. Aku merasa sebatang kara di dunia ini. Semua orang yang dulu mengaku sahabat juga pergi menjauh.

Tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku perlahan-lahan membuka mataku. Ah ternyata itu semua hanya mimpi. Aku juga tidak mengerti mengapa mimpi itu selalu datang setiap kali aku tertidur. Aku bangkit dari tumpukan kardus tempat aku tidur. Aku memperhatikan tubuhku yang kotor. Pakaianku compang-camping tidak karuan. Rambutku yang panjang dan gimbal menutupi bahuku. Tidak terasa lagi gatal dan bau dari rambut itu. Sepertinya aku sudah terbiasa dengan aku yang sekarang. Aku bangkit dan beranjak dari teras toko mainan itu. Aku harus mulai berkeliling untuk meminta sebungkus nasi agar aku bisa bertahan hidup....


Zet.@, Jumat. 14 Nopember 2014

Sumber Gambar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...